MATERI BIOLOGI

  • BIOLOGI PPT

    Materi Biologi (Bioteknologi, Fisiologi, Evolusi, Lingkungan, Keanekaragaman, Mikrobiologi) dikemas dalam bentuk powerpoint sehingga lebih ringkas dan mudah dipahami.

    Read More
  • Aturan Penulisan Skripsi

    Skripsi merupakan karya monumental yang bersifat resmi, sehingga dalam penyusunannya harus mengacu pada aturan baku. Disini disajikan aturan baku tersebut secara general yang digunakan oleh Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

    Read More
  • MANCHESTER UNITED ZONE

    tentang Manchester United Football Club (Sejarah terbentuknya, Arti lambang/emblem, Galeri foto kemenangan di Liga Premier Inggris dan Piala FA) serta membahas Sir Alex Ferguson sebagai manager legendaris Man. Utd.

    Read More
  • Republic of INDONESIA

    Guna memelihara dan memupuk rasa nasionalisme untuk INDONESIA, disini disajikan pengetahuan umum tentang Pancasila, Pembukaan UUD45, Sumpah Pemuda, Garuda.

    Read More

Thursday, June 19, 2014

Tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.)



1)      Klasifikasi Tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.)

Klasifikasi tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.) menurut Cronquist (1981) dalam Steenis (2004) adalah:
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Classis             : Magnoliopsida
Sub classis       : Rosidae
Ordo                : Fabales
Familia            : Mimosaceae
Genus              : Leucaena
Spesies            : Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.

Tanaman ini mempunyai sebutan berbeda di tiap daerah, misal di daerah jawa Barat dan Jawa Timur, tanaman ini disebut temu gledek atau temu poh, di Jawa Barat disebut dengan koneng badas, koneng lalab, koneng pari dan koneng juho. Di daerah Madura menyebut tanaman ini dengan temu pao (Kardinan, 2003).

2)      Morfologi Tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.)

Lamtoro adalah pohon perdu, tinggi 20 meter. Meski kebanyakan hanya antara 5-10 meter. Percabangan rendah, banyak, dengan pepagan kecoklatan atau keabu-abuan, berbintil-bintil dan berlentisel. Ranting bulat torak, dengan ujung yang berambut rapat. Daun majemuk menyirip rangkap, sirip 3-10 pasang, kebanyakan dengan kelenjar pada poros daun tepat sebelum pangkal sirip terbawah, daun penumpu kecil, berbentuk segitiga. Anak daun tiap sirip 5-20 pasang, berhadapan, bentuk garis memanjang dengan ujung runcing dan pangkal miring (tidak sama), permukaannya berambut halus dan tepinya berjumbai (Siswanto, 2010). 
 Bunga majemuk berupa bongkol (perbungaan capitulum) bertangkai panjang yang berkumpul dalam malai berisi 2-6 bongkol, tiap-tiap bongkol tersusun dari 100-180 kuntum bunga, membentuk bola berwarna putih atau kekuningan berdiameter 12-21 mm, di atas tangkai sepanjang 2-5 cm. bunga kecil-kecil, berbilangan 5, tabung kelopak bentuk lonceng bergigi pendek, berukuran 3 mm, mahkota bentuk solet berukuran 5 mm, lepas-lepas. Benangsari 10 helai berukuran 10 mm dan lepas-lepas. Buah polong bentuk pita lurus, pipih tipis, 14-26 cm x 1,5-2 cm, dengan sekat-sekat diantara biji, berwarna hijau saat muda dan coklat kering jika telah masak, memecah sendiri sepanjang kampuhnya. Berisi 15-30 biji yang terletak melintang dalam polongan, bulat telur terbalik, berwarna coklat tua mengkilap, berukuran 6-10 mm x 3-4,5 mm (Siswanto, 2010).

3)      Kandungan Kimia Tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.)

Daun lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.) mengandung abu (11%), nitrogen (4,2%), protein (25,9%), serat kasar (20,4%), kalsium (2,36%), fosfor (0,23%), beta karoten (536mg/kg), energi kotor (20,1KJ/g), dan tannin (10,15mg/g) (Kustiawan, 2001).
Kustiawan (2001) menyebutkan bahwa dalam setiap 100 gram biji lamtoro yang tua mengandung bahan seperti : kalori (148 kal), protein (10,6 g), lemak (0,5 g), karbohidrat (26,2 g), kalsium (155 mg), fosfor (59 mg), besi (2,2 mg), vitamin A (461 SI), vitamin B (0,23 mg), dan vitamin C (20 mg).
Sebagai bagian dari Mimosaceae, tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.) mengandung mimosin. Menurut Jones (1985); (Kustiawan, 2001) kandungan mimosin yang dimiliki tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.) yaitu 8-12% pada daun muda dan 4-5% pada bijinya.

4)      Manfaat Tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.)

Daun lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.) digunakan oleh masyarakat sebagai pakan ternak,  sedangkan bijinya digunakan untuk lalapan saat makan ataupun sebagai campuran berbagai makanan. Di daerah Jawa Tengah, biji lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.) digunakan sebagai campuran “bothok”. Batang lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.) dapat digunakan untuk membuat furniture atau dikumpulkan sebagai kayu bakar. Akar lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit.) mengandung bitil akar sehingga memiliki potensi besar untuk memperbaiki kesuburan tanah (Kustiawan, 2001).

Tanaman Kunyit Putih (Curcuma mangga Val.)



1)      Klasifikasi Tanaman Kunyit Putih (Curcuma mangga Val.)

Klasifikasi tanaman kunyit putih adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Classis             : Monocotyledonae
Ordo                : Zingiberales
Familia            : Zingiberaceae
Genus              : Curcuma
Spesies            : Curcuma mangga Val.
                                                        (Backer, C.A, 1965)

2)      Morfologi Tanaman Kunyit Putih (Curcuma mangga Val.)

Tanaman kunyit putih (Curcuma mangga Val.) merupakan tanaman semak berumur tahunan. Tanaman ini mempunyai tinggi 50-75 cm, bentuk batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah daun. Daun berwarna hijau, berbentuk seperti mata lembing bulat lonjong di bagian ujung dan pangkalnya. Panjang daun 30-60 cm dengan lebar daun 7,5-12,5 cm, tangkai daunnya panjang sama dengan panjang daunnya. Permukaan atas dan bawah daun agak licin, tidak berbulu. Tanaman ini mempunyai bunga majemuk berbentuk bulir yang muncul dari bagian ujung batang. Mahkota bunga berwarna kuning mudaatau hijau keputihan, panjang 2,5 cm. Kunyit putih memiliki rimpang berbentuk bulat, renyah, dan mudah dipatahkan. Kulitnya dipenuhi semacam akar serabut yang halus hingga menyerupai rambut. Rimpang utamanya keras, bila dibelah tampak daging buah berwarna kekuning-kuningan di bagian luar dan putih kekuningan di bagan tengahnya. Rimpang berbau aromatis seperti bau mangga, dan rasanya mirip mangga sehingga masyarakat menyebutnya temu mangga (Syukur, 2003).
Tanaman kunyit putih (Curcuma mangga Val.) memiliki morfologi yang dapat dilihat pada Gambar 1. sebagai berikut:
Gambar 1. Tanaman kunyit Putih (Curcuma mangga Val.)

3)      Syarat Tumbuh Tanaman Kunyit Putih (Curcuma mangga Val.)

a)      Iklim dan Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang sesuai untuk penanaman kunyit putih berkisar 250-1000 meter diatas permukaan laut (mdpl). Untuk mendapatkan target produksi dan mutu yang optimal, ketinggian tempat penanaman sekitar 500 mdpl (Syukur, 2003).
b)      Syarat Tanah
Tanaman kunyit putih (Curcuma mangga Val.) termasuk jenis tanaman yang toleran terhadap jenis tanah, namun pertumbuhan akan baik apabila jenis tanah yang digunakan untuk pertumbuan tanaman ini yaitu tanah liat berpasir (lempung berpasir) yang gembur, subur, dan pengairan baik. Untuk memperoleh tanah yang subur dan gembur, tanah diolah secara sempurna dan cukup dalam, serta ditambahkan pupuk organik (kotoran ternak atau kompos) (Syukur, 2003).
c)   Curah Hujan
Curah hujan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kunyit putih (Curcuma mangga Val.). Pada awal pertumbuhan hingga umur 5 bulan setelah ditanam, tanaman ini membutuhkan curah hujan yang cukup besar, yaitu sekitar 900-4000 mm per tahun dengan bulan kering kurang dari 5 bulan per tahun. Setelah berumur lebih dari 5 bulan diharapkan curah hujan berangsur-angsur berkurang sehingga memungkinkan sinar matahari bertambah banyak sampai rimpang siap panen (Syukur, 2003).
d)     Kebutuhan Cahaya
Tanaman kunyit putih (Curcuma mangga Val.) dapat tumbuh baik dengan cahaya penuh maupun ternaung (tertutup) atau cahaya matahari tidak langsung mengenai tanaman. Dari sisi produksi Kunyit putih (Curcuma mangga Val.) yang ditanam dibawah naungan, mempunyai berat yang tidak jauh berbeda dangan yang ditanam didaerah cahaya matahari penuh. Namun dari sisi kandungan minyak atsiri yang dihasilkan dari pertanaman dengan cahaya penuh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman dibawah naungan berat (Syukur, 2003).
e)      Kelembapan Udara
Suhu untuk pertumbuhan kunyit putih (Curcuma mangga Val.) yang optimal berkisar antar 25-30 C. Ketinggian tempat di atas 1.200 mdpl dengan suhu di bawah 24 C masih dapat tumbuh, tetapi harus melalui adaptasi yang cukup lama atau memerlukan perlakuan khusus (Syukur, 2003).

4)      Kandungan Kimia Kunyit Putih (Curcuma mangga Val.)

Rimpang kunyit putih (Curcuma mangga Val.) mengandung bahan minyak atsiri, amilum, tanin, gula dan damar (Muhisah, 1999) Syukur (2003). Komponen yang terdapat dalam rimpang kunyit putih (Curcuma mangga Val.) yaitu myrcene (81,4%), β-ocimene (5,1%), β-pinene (3,7%), α-pinene (2,9%), minyak atsiri (0,28%), dan kurkumin (3%). Selain itu rimpang dan daunnya mengandung saponin, flavonoid dan polifenol (Kardinan dan Taryono, 2003).

5)      Manfaat Tanaman Kunyit Putih (Curcuma mangga Val.)

Tanaman kunyit putih (Curcuma mangga Val.) merupakan salah satu obat tradisional yang banyak digunakan oleh masyarakat. Rimpangnya digunakan untuk mengurangi rasa nyeri saat haid, penambah nafsu makan, penurun panas tubuh, penyempitan peranakan, mengobati masuk angin, dan gatal-gatal (Muhlisah, 1999) Syukur (2003). Selain itu, dapat memperkecil rahim, menyempikan vagina, mengeringkan luka operasi kanker payudara, mengobati maag, peradangan akibat gangguan wasir, radang tenggorokan, diare, lemah syahwat, penangkal racun, dan menghambat pertumbuhan kanker Syukur (2003).

Recent Posts