Krinyu (Chromolaena odorata L.)

Posted by Unknown on Tuesday, February 24, 2015 with No comments

1. Klasifikasi Chromolaena odorata L.

Klasifikasi Chromolaena odorata L. menurut Backer dan Brink,(1965) adalah:
Kigdom      : Plantae
Divisi          : Magnoliophyta
Class           : Magnoliopsida
Sub Class    : Asteridae
Ordo            : Asterales
Familia        : Asteraceae
Genus          : Chromolaena
Spesies        : Chromolaena odorata L.

2. Morfologi Chromolaena odorata L.

Gulma krinyu (Chromolaena odorata L.) termasuk keluarga Asteraceae/ Compositae. Daunnya berbentuk oval, bagian   bawah lebih  lebar, makin ke ujung makin runcing. Panjang daun 6-10 cm dan lebarnya 3-6 cm. Tepi daun bergerigi, menghadap ke pangkal. Letak daun juga berhadap-hadapan. Karangan bunga terletak di ujung cabang (terminal). Setiap karangan bunga terdiri atas 20-35 bunga, warna bunga pada saat muda kebiru-biruan, semakin tua menjadi coklat.  Krinyu memiliki batang yang tegak, berkayu, ditumbuhi rambut-rambut halus, bercorak garis-garis membujur yang paralel, tingginya mencapai 100-200 cm, bercabang-cabang dan susunan daun berhadapan  (Prawiradiputra, 2007).

3Kandungan Kimia Chromolaena odorata L.

Krinyu cukup potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik karena produksi biomassanya tinggi. Pada umur 6 bulan krinyu dapat menghasilkan biomassa sebesar 11,2 ton/ha, dan setelah umur 3 tahun mampu menghasilkan biomassa sebesar 27,7 ton/ha (Suntoro dalam Kastono, 2005). Komposisi kimia bahan krinyu dan pupuk kandang sapi dapat dilihat pada tabel berikut: 
Tabel komposisi kimia bahan organik krinyu dan pupuk kandang

4. Penyebaran Chromolaena odorata L.

Menurut Vanderwoude (2005) dalam Prawiradiputra (2007), krinyu berasal dari Amerika Tengah, tetapi kini telah tersebar di daerah tropis dan subtropik dan diperkirakan telah ada di Indonesia sebelum tahun 1912 (Sipayung, 1991 dalam Prawiradiputra 2007). Namun demikian laporan pertama yang menyangkut kerugiannya terhadap ternak baru dilaporkan pada tahun 1971, yaitu mengenai keberadaannya di Cagar Alam Pananjung, Jawa Barat yang merugikan banteng di suaka alam tersebut karena rumput pakannya berkurang akibat invasi gulma berkayu ini.

Gulma ini tidak hanya ditemukan di Pulau Jawa tetapi juga ditemukan di seluruh Indonesia seperti di Sumatra, di Kalimantan, di Lombok, Sumbawa dan Flores. Tidak hanya di Asia dan Afrika, gulma ini juga ternyatasudah masuk ke Australia. Laporan Pheloung dalam Prawiradiputra (2007),  menunjukkan bahwa pada tahun 1994 gulma ini telah berada di Queensland, bahkan kini digolongkan pada gulma kelas pertama, yaitu gulma yang mendapat prioritas untuk dikendalikan. Morfologi dari tanaman tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. berikut:

5. Syarat Tumbuh Chromolaena odorata L.

Gulma ini dapat tumbuh baik pada semua jenis tanah dan akan tumbuh lebih baik lagi bila mendapat cahaya matahari yang cukup. Kondisi yang ideal bagi gulma ini adalah wilayah dengan curah hujan > 1.000 mm/tahun. Menurut FAO (2006) dalam Prawirodiputra (2007), gulma ini tidak tahan terhadap naungan, namun demikian di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya krinyu banyak dijumpai di perkebunan karet, kelapa sawit, kelapa, jambu mente dan sebagainya (Prawiradiputra, 2007).