MATERI BIOLOGI

  • BIOLOGI PPT

    Materi Biologi (Bioteknologi, Fisiologi, Evolusi, Lingkungan, Keanekaragaman, Mikrobiologi) dikemas dalam bentuk powerpoint sehingga lebih ringkas dan mudah dipahami.

    Read More
  • Aturan Penulisan Skripsi

    Skripsi merupakan karya monumental yang bersifat resmi, sehingga dalam penyusunannya harus mengacu pada aturan baku. Disini disajikan aturan baku tersebut secara general yang digunakan oleh Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

    Read More
  • MANCHESTER UNITED ZONE

    tentang Manchester United Football Club (Sejarah terbentuknya, Arti lambang/emblem, Galeri foto kemenangan di Liga Premier Inggris dan Piala FA) serta membahas Sir Alex Ferguson sebagai manager legendaris Man. Utd.

    Read More
  • Republic of INDONESIA

    Guna memelihara dan memupuk rasa nasionalisme untuk INDONESIA, disini disajikan pengetahuan umum tentang Pancasila, Pembukaan UUD45, Sumpah Pemuda, Garuda.

    Read More
Showing posts with label MORFOLOGI TUMBUHAN. Show all posts
Showing posts with label MORFOLOGI TUMBUHAN. Show all posts

Friday, April 24, 2015

Dasar Bunga (Receptaculum atau Torus)

Telah diketahui bahwa bunga dapat dianggap sebagai tunas yang mengalami metamorfosis, dan dasar bunga adalah ujung batang yang terhenti pertumbuhanya, biasanya menebal atau melebar, dan menjadi pendukung bagian-bagian bunga yang merupakan metamorfosis daun, yaitu kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik. Karena terhentinya pertumbuhan batang, ruas-ruasnya menjadi amat pendek, oleh sebab itu bagian-bagian bunga yang berasal dari daun lalu tersusun amat rapat satu sama lain, hanya pada beberapa macam bunga saja masih tampak beruas-ruas, misalnya pada Bunga Cempaka (Michelia champaca L.).


Dasar bunga sering memperlihatkan bagian-bagian yang khusus mendukung satu bagian bunga atau lebih, dan bergantung pada bagian bunga yang didudukinya, bagian dasar bunga dibedakan menjadi:
  1. Pendukung tajuk bunga atau antofor (anthophorum): bagian dasar bunga tempat duduknya daun-daun tajuk bunga. Misalnya pada Bunga Anyelir (Dianthus caryophyllus L.).
  2. Pendukung benang sari atau androfor (androphorum): bagian dasar bunga yang seringkali meninggi atau memanjang dan menjadi tempat duduknya benang sari. Misalnya pada Bunga Maman (Gynandropsis pentaphylla D.C.).
  3. Pendukung putik atau ginofor (gynophorum): suatu peninggian dasar bunga yang khusus menjadi tempat duduknya putik. Misalnya pada Bunga Teratai Besar (Nelumbium nelumbo Druce)
    dan Bunga Cempaka (Michelia champaka L.).
  4. Pendukung benang sari dan putik atau androginofor (androgynophorum): bagian dasar bunga yang biasanya meninggi dan mendukung benang sari dan putik diatasnya. Misalnya pada Bunga Markisah (Passiflora quadrangularis L.).
  5. Cakram (discus): semacam peninggian atau bantalan berbentuk cakram yang seringkali mempunyai kelenjar-kelenjar madu. Misalnya pada Bunga Jeruk (Citrus sp.).

Tuesday, March 17, 2015

Kelamin Bunga

Bunga biasanya mempunyai dua macam alat kelamin, dan justru alat-alat itulah yang sesungguhnya merupakan bagian-bagian bunga yang terpenting, karena dengan adanya alat-alat tersebut dapat kemudian dihasilkan alat perkembang-biakan atau calon tumbuhan baru.
Bardasarkan alat-alat kelamin yang terdapat pada masing-masing bunga , orang membedakan:
  1. Bunga Banci atau Berkelamin Dua (hermaphroditus), yaitu bunga yang padanya terdapat benang sari (alat kelamin jantan) maupun putik (alat kelamin betina). Bunga ini seringkali dinamakan pula bunga sempurna atau bunga lengkap, kerena biasanya pun jelas mempunyai hiasan bunga yang terdiri atas kelopak dan mahkotaMisalnya pada bunga Terung (Solanum melongena L.).
  2. Bunga Berkelamin Tunggal (unisexualis), jika pada bunga hanya terdapat salah satu dari kedua macam alat kelaminnya. Berdasarkan alat kelamin yang ada padanya dapat dibedakan lagi dalam:
    1. Bunga Jantan (flos masculus), jika pada bunga hanya terdapat benang sari tanpa putik, misalnya Bunga Jagung yang terdapat di bagian atas tumbuhan. Bunga jantan seringkali ditunjukkan dengan lambang .
    2. Bunga Betina (flos feminieus), yaitu bunga yang tidak mempunyai banang sari, melainkan hanya putik saja, misalnya Bunga Jagung yang tersusun dalam tongkolnya. Bunga betina ditunjukkan dalam lambang .
  3. Bunga Mandul atau Bunga Tidak Berkelamin, jika pada bunga tidak terdapat benang sari maupun putik. Misalnya bunga pinggir (bunga pita) pada Bunga Matahari (Helianthus annuus L.).



Penelitian mengenai jenis kelamin bunga menunjukkan bahwa satu batang tumbuhan, misalnya sebatang tanaman Jagung, dapat memperlihatkan dua macam bunga, yaitu bunga jantan yang tersusun sebagai bulir majemuk pada ujung tanaman dan bunga betina yang tersusun sebagai tongkol dan terdapat dalam ketiak-ketiak daunnya. Berdasarkan jenis kelamin bunga yang terdapat pada suatu tumbuhan, maka tumbuhan dibedakan menjadi:
  1. Berumah Satu (monoecus), yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan). Misalnya pada Jagung (Zea mays L.),
    Mentimun (Cucumis sativus L.),
    dan Jarak (Ricinus communis L.).
  2. Berumah Dua (dioecus), jika bunga jantan dan bunga betina terpisah tempatnya, sehingga ada individu tumbuhan yang hanya mempunyai bunga jantan saja dan ada individu tumbuhan yang hanya mempunyai bunga betina saja. Misalnya Salak (Zalacca edulis Reinw.).
  3. Poligami (polygamus), jika pada satu tumbuhan terdapat bunga jantan, bunga betina, dan bunga banci bersama-sama. Biasanya poligami dimaksudkan untuk menunjukkan sifat tumbuhan yang memperlihatkan suatu kombinasi bukan berumah satu dan juga bukan berumah dua.
    Selain itu, ada kemungkinan lain mengenai letak bunga pada tumbuhan yang bersifat poligami. Suatu tumbuhan dapat bersifat:
    • Gynodeoecus, jika pada satu individu hanya terdapat bunga betina saja, sedangkan pada individu lain bunga banci. Misalnya pada Labiatae.
    • Androdeiocus, jika pada satu individu terdapat bunga jantan saja sedangkan pada individu lain tedapat bunga banci. Misalnya pada Dyras octopelata.
    • Monoeco-polygamus, jika pada satu individu terdapat bunga jantan, betina, dan banci bersama-sama. Misalnya pada Pepaya (Carica papaya L.).
    • Gynomonoecus, jika pada satu individu tumbuhan terdapat bunga betina dan bunga banci bersama-sama.
    • Trioecus atau trioeco-polygamus, jika bunga jantan, betina, dan banci terpisah pada individu yang berlainan.

Simetri Pada Bunga

Simetri adalah suatu benda atau badan yang juga biasa disebut untuk bagian-bagian tugun tumbuhan (batang, daun, maupun bunga) jika benda tadi oleh sebuah bidang dapat dibagi menjadi dua bagian sedemikian rupa, sehingga kedua bagian itu saling dapat menutupi. Jadi seandainya bidang itu dijadikan tempat untuk melipat, maka benda tadi dapat dijadikan suatu benda yang setangkup atau simetris. Dapat pula dikatakan demikian: bidang pemisah tadi dapat dianggap merupakan sebuah cermin datar dan bagian yang satu merupakan bayangan cermin bagian yang lainnya. Bidang yang dapat dibuat untuk memisahkan suatu benda dalam dua bagian yang satu sama lain merupakan bayangannya dalam cermin datar tadi disebut bidang simetri.

Bunga sebagai suatu bagian tubuh tumbuhan dapat pula mempunyai sifat tersebut di atas, dan maka bunga dapat berupa:
  1. Asimetris atau Tidak Simetris, jika pada bunga tidak dapat dibuat satu bidang simetri dengan jalan apapun juga. Misalnya Bunga Tasbih (Canna hybrida Hort.).
  2. Setangkup Tunggal (monosimentris atau zygomorphus), jika pada bunga hanya dapat dibuat satu bidang simetri saja yang membagi bunga menjadi dua bagian yang setangkup. Sifat ini dilambangkan dengan  (anak panah). Bunga Setangkup Tunggal dapat dibedakan menjadi 3 macam:
    1. Setangkup Tegak, jika bidang simetrinya berimpit dengan bidang median. Misalnya Bunga Telang (Clitoria ternatea L.).
    2. Setangkup Mendatar, jika bidang simetrinya tegak lurus pada bidang median, dan tegak lurus pula pada arah vertikal. Misalnya Bunga Corydalis.
    3. Setangkup Miring, jika bidang simetrinya memotong bidang median dengan sudut yang lebih kecil (lebih besar) dari 900. Misalnya Bunga Kecubung (Datura metel L.).
  3. Setangkup Menurut 2 Bidang (bilateral simetri atau disimetri), yaitu bunga yang dapat dijadikan 2 bagian yang setangkup menurut 2 bidang simetri yang tegak lurus satu sama lain. Misalnya bunga tumbuhan suku (Cruciferae), contohnya Bunga Lobak (Raphanus sativus L.).
  4. Beraturan atau Bersimetri Banyak (polusimetri, regularis, atau actinomorphus), yaitu jika bunga dapat dibuat banyak bidang simetri untuk membagi bunga itu dalam 2 bagiannya yang setangkup. Dilambangkan dengan * (bintang). Misalnya bunga Lilia Gereja (Lilium longiflorum Thunb.).

Pembagian Tempat Antar Bagian-Bagian Bunga

Telah diketahui bahwa bagian-bagian bunga yang merupakan metamorfosis daun (kelopak, mahkota, benang sari, dan daun buah) dapat mempunyai susunan yang berbada-beda, yaitu:
  • Terpencar, Tersebar, atau Menurut Suatu Spiral (acylis). Misalnya Bunga Cempaka (Michelia champaca L.).
  • Berkarang, Melingkar (cyclis), jika daun-daun kelopak, benang sari dan daun-daun buah masing-masing tersusun dalam suatu lingkaran. Misalnya Bunga Terong (Solanum melongena L.).
  • Campuran (hemycyclis), jika bagian-bagian bunga tadi ada yang duduk berkarang, sedangkan bagian lain duduk terpencar. Misalnya Bunga Sirsat (Annona muricata L.).

Dalam hubungannya dengan letak bagian-bagian bunga, dalam penelitian seksama masih dapat ditemukan kenyataan berikut:
Jika bagian-bagian bunga tadii duduknya berkarang, dan setiap lingkaran memuat bagian bunga  yang sama jumlahnya, misalnya ada 3 daun kelopakk, 3 daun mahkota, 2 lingkaran benang sari yang masing-masing memuat 3 benang sari, dan 3 daun buah, maka letak bagian-bagian tadi pada bunga dapat:
  1. Berseling (Alternatio), jika bagian-bagian suatu lingkaran terletak diantara dua bagian lingkaran di bawahnya atau di atasnya.
  2. Berhadapan atau Tumpang Tindih (Superpositio), jika masing-masing bagian dalam setiap lingkaran berhadapan satu sama lain.
Pada umumnya bunga mempunyai bagian-bagian yang duduknya berseling, bahkan bersifat berseling (alternatio) ini dianggap sifat mutlak. Jika pada suatu bunga terdapat bagian-bagian yang berhadapan, ada kemungkinan besar bahwa pada bunga itu ada bagian yang tellah hilang (tereduksi). Dalam hal yang demikian, bagian bunga yang dianggap hilang adalah bagian yang seharusnya terletak di antara dua lingkaran yang berhadapan tadi.

Saturday, March 14, 2015

Bagian-Bagian Bunga

Bunga pada umumnya memiliki bagian-bagian sebagau berikut:


A. Tangkai Bunga (pedicellus)

Yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang, padanya seringkali terdapat daun-daun peralihan, yaitu bagian-bagian yang menyerupai daun, berwarna hijau yang seakan-akan merupakan peralihan dari daun biasa ke hiasan bunga.

B. Dasar Bunga (receptaculum)

Yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, denga ruas-ruas yang pendek, sehingga daun-daun yang telah mengalami metamorposis menjadi bagian-bagian bunga yang duduk amat rapat satu sama lain, bahkan biasanya lalu tampak duduk dalam satu lingkaran.

C. Hiasan Bunga (perianthium)

Yaitu bagian bunga yang yang merupakan penjelmaan daun yang masih tampak berbentuk lembaran dengan tulang-tulang atau urat-urat yag masih jelas. Biasanya hiasan bunga dapat dibedakan dalam dua bagian yang masing-masing duduk dalam satu lingkaran. Jadi bagian-bagian hiasan bunga itu umumnya tersusun dalam dua lingkaran:

  1. Kelopak (kalyx), yaitu bagian hiasan bunga yang merupakan lingkaran luar, biasanya berwarna hijau, dan sewakltu bunga masih kuncup merupakan selubungnya,yang melindungi kuncup tadi terhadap pengaruh dari luar. Kelopak terdiri atas beberapa daun kelopak (spala). Daun-daun kelopak pada bunga dapat berlekatan satu sama lain, dapat pula terpisah.
  2. Tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla), yaitu bagian hiasan bunga yang terdapat pada bagian dalam, biasanya tidak berwarna hijau lagi. Warna bagian inilah yang lazimnya merupakan warna bunga. Mahkota bunga terdiri atas sejumlah daun mahkota (petala), yang seperti halnya dengan daun kelopak dapat berlekatan atau tidak.

Pada suatu bunga seringkali tidak kita dapati hiasan bunganya. Bunga yang drmikian disebut bunga telanjang (flos nodus), misalnya pada Bunga Patikan (Euphorbia hirta L.),
atau hisan bunga tadi tidak dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkotanya, dengan perkataan lain kelopak dan mahkotanya sama, baik bentuk maupun warnanya. Hiasan bunga yang demikian dinamakan: tenda bunga (perigonium), yang terdiri atas sejumlah daun tenda bunga (tepala), misalnya pada Bunga Kembang Sungsang (Gloriosa superba L.)
dan Bunga Lili Gereja (Lilium longiflorum Thunb.).


D. Alat-alat Kelamin Jantan (androecium)

Bagian ini sesungguhnya juga merupakan metamorphosis yang menghasilkan serbuk sari. Androecium terdiri atas sejumlah benang sari (stamen). Pada bunga benang-benang sarinya dapat pula bebas atau berlekatan, ada yang tersusun dalam satu lingkaran ada pula dalam dua lingkaran. Bahwasanya bagian ini merupakan penjelmaan daun, masih dapat terlihat misalnya pada Bunga Tasbih (Canna hibrida), yang benang sarinya yang mandul berbentuk lembaran-lembaran menyerupai daun-daun mahkota.


E. Alat-alat Kelamin Betina (gynaecium)

Merupakan bagian pada bunga yang biasanya disebut dengan putik (pistillum), juga putik terdiri atas metamorphosis daun yang disebut daun buah (carpella). Pada bunga dapat ditemukan satu atau beberapa putik, dan setiap putik dapat terdiri atas beberapa daun buah. Kalau ada beberapa daun buah, maka biasanya semuanya akan tersusun sebagai lingkaran bagian-bagian bunga yang terakhir.



Melihat bagian-bagian yang terdapat pada bunga (tangkai dan dasar bunganya tidak diperhitungkan), maka bunga dapat dibedakan dalam:
  1. Bunga Lengkap atau Bunga Sempurna (flos completus), yang dapat terdiri atas: 1 lingkaran daun-daun kelopak, 1 lingkaran daun-daun mahkota, 1 atau 2 lingkaran benang-benang sari dan 1 lingkaran daun-daun buah. Bunga yang bagian-bagiannya tersusun dalam 4 lingkaran dikatakan bersifat tetrasiklik, dan jika bagian-bagiannya tersusun dalam 5 lingkaran dikatakan bersifat pentasiklik.
  2. Bunga Tidak Lengkap atau Bunga Tidak Sempurna (flos incompletus), jika salah satu bagian hiasan bunganya atau salah satu alat kelaminnya tidak ada. Jika bunga tidak mempunyai hiasan bunga, maka bunga itu disebut telanjang (nudus), jika hanya mempunyai salah satu dari kedua macam alat kelaminnya maka disebut berkelamin tunggal (unisexualis). Bunga yang mempunyai tenda bunga (perigonium), jadi jika kelopak dan mahkotanya sama bentuk maupun rupanya, seringkali dianggap sebagai bunga tidak lengkap pula.

Bunga Majemuk Berbatas (Inflorescentia Cymosa, Inflorescentia Centrifuga, Inflorescentia Definita)

Bunga Majemuk Berbatas (inflorescentia cymosa atau inflorescentia centrifuga, inflorescentia definita), yaitu munga majemuk yang ujung ibu tangkainya selalu ditutup dengan suatu bunga, jadi ibu tangkai mempunyai pertumbuhan yang terbatas. Ibu tangkai ini dapat pula bercabang-cabang, dan cabang-cabang tadi juga selalu mendukung suatu bunga pada ujungnya. Pada bunga majemuk terbatas, jika dilihat dari atas, yang mekar lebih dahulu ialah bunga  yang terdapat di sumbu pokok atau ibu tangkainya, jadi dari tengah ke pinggir, sehingga disebut inflorescentia centrifuga.

Menurut jumlah atau sifat cabangnya, bunga majemuk Berbatas dibedakan atas:
  • Monochasial, jika ibu tangkai hanya mempunyai satu cabang, kadang dua cabang tetapi tidak pernah berhadapan, dan yang satu lebih besar daripada yang lainnya. Cabang yang besar selanjutnya seperti ibu tangkai setiap kali hanya mengeluarkan satu cabang saja. Bunga majemuk semacam ini ditemukan pada berbagai jenis tiumbuhan monokotil (monocotyledoneae) misalnya pada Bunga Kapas (Gossypium sp.).
  • Dichasial, jika dari ibu tangkai keluar dua cabang yang berhadapan. Misalnya pada Bunga Labiatae.
  • Pleiochasial, jika dari ibu tangkai keluar lebih dari dua cabang pada suatu tempat yang sama tingginya. Misalnya pada Bunga Oleander (Netrium oleander L.).


Bunga majemuk berbatas dapat dibedakan menjadi beberapa golongan, yaitu:
  1. Anak Payung Menggarpu (dichasium). Pada ujung ibu tangkai terdapat satu bunga. Di bawahnya terdapat dua cabang yang sama panjangnya, masing-masing mendukung satu bunga pada ujungnya. Bunga yang mekar dahulu ialah bunga yang terdapat pada ujung ibu tangkainya, seperti misalnya Bunga Melati (Jasminum sumbac Ait.).
    Ada pula kalanya cabang bunga anak payung menggarpu yang majemuk, yang seluruhnya terdiri atas tujuh bunga, misalnya pada Bunga Clematis sp..
  2. Bunga Tangga atau Bunga Becabang Seling (cincinnus), yaitu suatu bunga majemuk yang ibu tangkainya becabang, tetapi setiap kali bercabang hanya berbentuk satu cabang saja, yang arahnya berganti-ganti ke kiri dan ke kanan. Bunga yang demikian ini antara lain terdapat pada Bunga Buntut Tikus (Helitropium indicus L.).
    Pada beberapa jenis tumbuhan yang tergolong suku Euphorbiaceae, terdapat bunga majemuk dengan susunan yang khas, yaitu: satu bunga betina dikelilingi oleh lima bunga bercabang seling, masing-masing terdiri atas empat bunga jantan. Bunga majemuk dengan susunan yang demikian itu disebut Cyanthium. Misalnya pada Bunga Kayu Merah (Euphorbia pulcherrima Willd.),
    dan Bunga Patikan 
    (Euphorbia hirta L.).
  3. Bunga Sekerup (bostryx), ibu tangkai bercabang-cabang, tetapi setiap kali bercabang juga hanya terbentuk satu cabang, yang semuanya terbentuk ke kiri atau ke kanan dan cabang yang satu berturut-turut membentuk sudut 90osehingga jika kita mengikuti arah percabangan kita akan mengadakan gerakan seperti sekerup atau spiral, misalnya pada Bunga Kenari (Canarium commune L.).
  4. Bunga Sabit (drepanium), seperti bunga sekerup tetapi semua percabangan terletak pada satu bidang, hingga bunga seluruhnya menampakkan bentuk seperti sabit, terdapat pada tumbuhan suku Juncaceae.
  5. Bunga Kipas (rhipidium), seperti bunga becabang seling, semua percabangan terletak pada satu bidang dan cabang tidak sama panjang, sehingga semua bunga pada bunga majemuk itu terdapat pada tempat yang sama tingginya, terdapat antara lain pada tumbuhan suku Iridacea.

Recent Posts