MATERI BIOLOGI

  • BIOLOGI PPT

    Materi Biologi (Bioteknologi, Fisiologi, Evolusi, Lingkungan, Keanekaragaman, Mikrobiologi) dikemas dalam bentuk powerpoint sehingga lebih ringkas dan mudah dipahami.

    Read More
  • Aturan Penulisan Skripsi

    Skripsi merupakan karya monumental yang bersifat resmi, sehingga dalam penyusunannya harus mengacu pada aturan baku. Disini disajikan aturan baku tersebut secara general yang digunakan oleh Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

    Read More
  • MANCHESTER UNITED ZONE

    tentang Manchester United Football Club (Sejarah terbentuknya, Arti lambang/emblem, Galeri foto kemenangan di Liga Premier Inggris dan Piala FA) serta membahas Sir Alex Ferguson sebagai manager legendaris Man. Utd.

    Read More
  • Republic of INDONESIA

    Guna memelihara dan memupuk rasa nasionalisme untuk INDONESIA, disini disajikan pengetahuan umum tentang Pancasila, Pembukaan UUD45, Sumpah Pemuda, Garuda.

    Read More
Showing posts with label DAUN. Show all posts
Showing posts with label DAUN. Show all posts

Wednesday, March 4, 2015

Spirostik dan Parastik

A. Spirostik

Pada suatu tumbuhan garis-garis ortostik yang biasanya tampak lurus ke atas, dapat mengalami perubahan-perubahan arahnya karena pengaruh bermacam faktor. Perubahan yang sangat karakteristik ialah perubahan ortostik menjadi garis spiral yang tampak melingkar pada batang. Sehingga spiral genetik sulit untuk ditentukan dan tampaknya letak daun pada batang mrngikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi, disebut Spirostik. Suatu spirostik biasanya terjadi karena pertumbuhan batang yang tidak lurus melainkan memutar, akibatnya ortostiknya ikut memutar dan berubah menjadi spirostik. Contohnya pada:
  1. tanaman Pancing (Costus speciosus Smith), yang mempunyai satu spirostik sehingga daun-daunnya tersusun seperti anak tangga pada tangga yang melingkar.
  2. tanaman Bupleurum falcatum L., yang mempunyai 2 spirostik
  3. tanaman Pandan (Pandanus tectorius Sol.) yang mempunya 3 spirostik.


B. Parastik

Letak daun pada tumbuhan cukup rapat satu sama lain, misalnya pada Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) daunnya seakan-akan duduk menurut garis-garis spiral ke kiri atau ke kanan.
Pada pohon ini ortostik dan spiral genetiknya sangat sulit ditentukan. Garis-garis spiral  dengan arah putaran melingkar batang ke kiri dan ke kanan itu menghubungkan daun-daun yang menurut arah ke samping (mendatar, horozontal) mempunyai jarak terdekat. Sehingga setiap daun mempunyai tetangga terdekat satu di sebelah kiri dan satu di sebelah kanan, maka tampak ada 2 spiral ke kiri dan ke kanan. Garis spiral seperti ini disebut parastik.

Keadaan ini juga tampak pada buah nanas yang menunjukkan aturan letak mata-mata pada buah Nanas adalah parastik.

Diagram Tata Letak Daun (Diagram Daun)

Untuk lebih jelas mengenai tata letak daun pada batang tanaman, dapat ditempuh dengan dua jalan:
  1. membuat bagan/skema letaknya daun
  2. membuat diagram letaknya daun
Untuk membuat diagram daun, batang harus dipandang sebagai kerucut yang memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Jika diproyeksikan pada suatu bidang datar, maka buku-buku batang akan menjadi lingkaran-lingkaran yang konsentris dan puncak batang akan merupakan titik pusat semua lingkaran tadi. Ortostiknya akan merupakan jari-jari lingkaran tadi.
Langkah-langkah membuat diagram daun untuk rumus daun 2/5:

  1. Dibuat minimal 6 lingkaran yang konsentris untuk memperlihatkan daun yang duduk pada satu ortostik.
  2. Dibuat 5 ortostik yang membagi lingkaran-lingkaran tadi menjadi 5 sektor yang sama besar.
  3. Digambar daun pada lingkaran-lingkaran tadi berturut-turut dari luar ke dalam, kemudian daun diberi nomor. Jarak antara 2 daun adalah 2/5 lingkaraan, jadi harus meloncati 1 ortostik.
  4. Dibuat spiral genetik berupa garis spiral dari lingkaran paling luar ke lingkaran paling dalam.

Bagan (Skema) Tata Letak Daun

Untuk lebih jelas mengenai tata letak daun pada batang tanaman, dapat ditempuh dengan dua jalan:
  1. membuat bagan/skema letaknya daun
  2. membuat diagram letaknya daun

Langkah-langkah membuat bagan/skema tata letak daun pada batang misalnya rumus 2/5:
  1. Untuk membuat bagan/skema tata letak daun pada batang tanaman, batang tanaman digambar sebagai silinder.
  2. Digambar 5 ortosiknya secara membujur.
  3. Digambar daun-daun pada setiap buku-buku batangnya yang jaraknya sama satu sama lain, yakni 2/5 lingkaran. Daun disimbolkan dengan segitiga terbalik.

Untuk menghindari kesalahan sebaiknya garis-garis yang menggambarkan masing-masing bagian tadi dibuat berbeda-beda. Maka akan terlihat dimulai dengan daun yang mana saja, setelah garis spiral genetik melingkari batang sampai 2x akan melewati 5 daun. Dam pada bagian itu akan terlihat bahwa daun-daun nomor 1, 6, 11, dst. tiap kali ditambah 5, demikian pula daun-daun nomor 2, 7, 12, dst. akan terletak pada ortosik yang sama. Untuk memperlihatkannya perlu semua daun diberi nomor urut sepanjang spiral genetiknya.

Tata Letak Daun Pada Batang (phyllotaxis/dispositio foliorum)

Daun biasanya terdapat pada batang dan cabang-cabangnya, ada pula yang berjejal-jejal pada suatu bagian pangkal batang atau pada ujung batang.

Buku-buku batang (nodus), merupakan bagian batang atau cabang batang tempat duduknya daun. Buku-buku pada batang biasanya tampak membesar dan melingkar batang seperti cincin, misalnya pada Bambu (Bambusa sp.), Tebu (Saccharum officinarum L.) dan semua jenis rumput. Ruas (internodium), merupakan bagian batang antara 2 buku-buku. Walaupun kadang buku-buku tak tampak jelas pada batang, namun tempat duduknya daun tetap disebut buku-buku dan jarak antara 2 buku-buku dinamakan ruas pula.

Duduknya daun pada batang berbagai jenis tumbuhan mempunyai perbedaan mengenai aturan letak daun satu sama lain pada batang. Aturan mengenai tata letak daun tersebut disebut tata letak daun. Tata letak daun dapat digunakan sebagai tanda pengenal suatu tumbuhan karena tumbuhan yang sejenis mempunyai tata letak daun yang sama.

Untuk mengetahui tata letak daun pada batang, terlebih dahulu ditentukan jumlah daun yang terdapat pada buku-buku yang kemungkinannya:
  1. terdapat 1 daun pada tiap buku-buku
  2. terdapat 2 daun yang berhadap-hadapan pada tiap buku-buku
  3. terdapat lebih dari 2 daun pada tiap buku-buku.

1. Satu Daun Pada Tiap Buku-buku

Pada tiap buku-buku hanya terdapat 1 daun saja, maka tata letak daun yang demikian disebut tersebar (folia sparsa). Walaupun disebut tersebar namun jika diteliti ternyata ada hal-hal yang sifatnya teratur. Jika suatu tumbuhan batangnya dianggap mempunyai bentuk silinder, buku-buku batang sebagai lingkaran-lingkaran dengan jarak teratur pada silinder tadi, dan tempat duduknya daun merupakan suatu titik pada lingkaran tersebut, maka akan ditemukan hal-hal berikut.

Jika diambil salah satu titik (tempat duduk daun) sebagai titik tolak, dan bergerak mengikuti garis yang menuju titik duduk daun pada buku-buku batang di atasnya dengan mengambil jarak terpendek, demikian seterusnya, pada suatu saat akan sampai pada suatu daun yang letaknya tepat pada garis vertikal di atas daun pertama yang digunakan sebagai titik tolak. Jika berputar mengikuti garis spiral yang melingkari batang tadi, pada perjalanan melingkar sampai tercapainya daun yang tegak lurus di atas titik tolak, akan melewati beberapa daun. Kejadian ini akan selalu berulang kembali walaupun dengan daun yang lain sebagai titik tolak. Jadi mengenai tata letak daun jelas ada ciri-ciri khas yang bersifat beraturan.

Perbandingan antara banyaknya kali garis spiral tersebut di atas melingkari batang dengan jumlah daun yang dilewati selama sekian kali melingkar batang (daun pada titik tolak tidak dihitung) merupakan suatu pecahan yang bernilai tetap untuk 1 jenis tumbuhan.

Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun titik tolak garis spiral tadi mengelilingi batang sebanyak A kali, dan jumlah daun yang dilewati sebanyak B daun, maka perbandingan kedua bilangan tadi merupakan pecahan A/B, disebut rumus daun (divergensi).

Telah diterangkan di atas bahwa untuk mencapai 2 daun yang tegak lurus satu sama lain telah dilewati sebanyak B daun, berarti pada batang terdapat pula sebanyak B garis-garis tegak lurus (garis vertikal) yang disebut ortistik. Garis spiral yang diikuti melingkar batang merupakan suatu garis yang menghubungkan daun-daun berturut-turut dari bawah ke atas, menurut urutan tua mudanya daun. Garis spiral ini disebut spiral genetik.

Pecahan A/B dapat menunjukkan jarak sudut antara 2 daun berturut-turut, jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak sudut antara 2 daun berturut-turut pun tetap dan besarnya adalah A/B x besarnya lingkaran = A/B x 3600 disebut sudut divergensi.

Pada berbagai jenis tumbuhan, pecahan A/B dapat terdiri atas pecahan: 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst. Jika diamati deretan pecahan tersebut dapat merupakan rumus daun suatu jenis tumbuhan yang memperlihatkan sifat berikut:
  • tiap suku di belakang suku kedua (suku ketiga dst.) merupakan suatu pecahan yang pembilangnya dapat diperoleh dengan menjumlah kedua pembilang dua suku di depannya, demikian juga penyebutnya yang merupakan hasil penjumlahan kedua penyebut dua suku di depannya.
  • tiap suku dalam deret merupakan suatu pecahan yang penyebutnya merupakan selisih antara penyebut dan pembilang suku di depannya, sedangkan penyebutnya adalah jumlah penyebut suku di depannya dengan pembilang suku itu sendiri.
Deretan rumus daun yang memperlihatkan sifat karakteristik disebut deret Fibonacci (dinamai sesuai dengan penemu deret tersebut).

Pada tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, kadang terlihat daun-daun yang duduknya rapat berjejal-jejal, yaitu jika ruas-ruas batang sangat pendek sehingga duduk daun pada batang tampak hampir sama tinggi dan sulit untuk menentukan urut-urutan tua mudanya. Daun dengan susunan yang demikian disebut roset (rosula)Roset dibedakan menjadi 2:
  1. Roset Akar, jika batang sangat pendek sehingga semua daun berjejal-jejal di atas tanah, jadi roset sangat dekat dengan akar. Misalnya pada Lobak (Raphanus sativus L.)
    dan
    Trichodesma zeylanicum Burm. f
  2. Roset Batang, jika daun yang rapat dan berjejal-jejal terdapat pada ujung batang. Misalnya pada pohon Kelapa (Cocos nucifera L.) dan jenis palma lainnya.
Pada cabang yang mendarat atau serong ke atas, daun dengan tata letak tersebar teratur sedemikian rupa sehingga helaian daun pada cabang tersebut teratur pada suatu bidang datar membentuk pola mozaik (pola karpet) yang disebut mosaik daun.

Bagi cabang-cabang yang mendatar mosaik daun terjadi karena semua daun terlentang ke kiri dan ke kanan menggunakan bidang datar tersebut seefektif mungkin. Letak daun-daun yang demikian misalnya pada pohon Alnus.
Bagi cabang-cabang yang tumbuh serong ke atas, daun-daun yang tata letaknya tersebar menempatkan helaian-helaian daun pada suatu bidang datar pada ujung cabang, helaian daun muda di tengah dan ke pinggir daun-daun yang lebih tua (biasanya lebih lebar). Hal tersebut karena tangkai daun-daun menuju ke ujung cabang menjadi semakin pendek. Contohnya pada pohon Kemiri (Aleurites moluccana Willd.) dan berbagai jenis Begonia tertentu.

CATATAN: Tata letak daun tersebar yang mengikuti rumus 1/2 oleh sementara penulis dipisahkan dari tata letak daun yang tersebar umumnya, dan disebut duduk daun berseling (folia distica), misalnya pada pohon Talok (Muntingia calabura L.),
Srikaya (Annona squamosa L.), dll.

2. Dua Daun Pada Tiap Buku-buku

Dua daun pada setiap buku-buku letaknya berhadapan (terpisah oleh jarak 1800). Pada buku-buku batang berikutnya biasanya kedua daunnya membentuk suatu silang dengan 2 daun di bawahnya. disebut berhadapan - bersilang (folia opposita atau folia decussata),
misalnya pada Mengkudu (Morinda citrifolia L.),
Soka (Ixora paludosa Kurz.), dll.

3. Lebih Dari Dua Daun Pada Tiap Buku-buku

Tata letak yang demikian disebut berkarang (folia verticillata),
misalnya pada pohon Pulai (Alstonia scholaris R.Br.),
Alamanda (Allamanda cathartica L.).
Pada tumbuhan dengan tata letak daun berhadapan dan berkarang tak dapat ditentukan rumus daunnya, tetapi juga pada duduk daun dapat diperhatikan adanya ortostik-ortostik yang menghubungkan daun-daun yang tegak lurus satu sama lain.

Tuesday, March 3, 2015

Tepi Daun (Margo Folii)

Secara garis besar tepi daun dibedakan menjadi:
  1. Rata (integer)
  2. Bertoreh (divisus)

Toreh-toreh tepi daun beragam macamnya, ada yang dangkal, dalam, besar, kecil, dll. Toreh-toreh tepi daun dibedakan menjadi:
  1. Toreh Merdeka, toreh yang tidak berpengaruh/mengubah bangun asli daun. 
  2. Toreh Tidak Merdeka, toreh yang berpengaruh/mengubah  bangun asli daun.

Tepi Daun Dengan Toreh Merdeka

Toreh ini biasanya tidak terlalu dalam, letaknya tidak bergantung pada jalannya tulang-tulang daun. Dalam hubungannya dengan jenis toreh, digunakan istilah sinus untuk torehnya dan angulus untuk bagian tepi daun yang menonjol keluar.
  1. Bergerigi (serratus), jika sinus dan angulus sama lancipnya. Contohnya pada daun Lantana (Lantana camara L.). Dikenal pula jenis lain menurut besar kecilnya sinus dan angulus: Brgerigi Halus, Bergerigi Kasar, dst.
  2. Bergerigi Ganda/Rangkap (biserratus), seperti pada tipe bergerigi, tetapi angulusnya cukup besar dan tepinya bergerigi.
  3. Bergigi (dentatus), jika sinus tumpul sedang angulusnya lancip. Contohnya pada daun Beluntas (Pluchea indica Less.).
  4. Beringgit (crenatus), kebalikan tipe bergigi, sinus tajam dan angulusnya tumpul. Contohnya pada daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata Pers.).
  5. Berombak (repandus), jika sinus dan angulus sama-sama tumpul. Contohnya pada daun Air Mata Pengantin (Antigonon leptopus Hook et Arn.).

Tepi Daun Dengan Toreh Tidak Merdeka

Toreh daun yang besar dan dalam akan mempengaruhi bangun daun sehingga bangun asli daun tidak lagi tampak. Toreh yang basar dan dalam itu biasanya terdapat di antara tulang-tulang yang besar atau di antara tulang-tulang cabang. Jika daun amat besar atau lebar (misalnya pada daun Pepaya) bagian daun di antara toreh-toreh yang besar dan dalam itu dapat bertoreh-toreh lagi, sehingga semakin tidak terlihat bangun asli daunnya.
Karena itu, biasanya tidak lagi disebut mengenai bentuk daunnya, melainkan hanya disebutkan sifat-sifat torehnya, Sehingga pencandraan daun lebih teliti, karena selain menyebut bentuk asli daun juga sifat-sifat torehnya.
Berdasarkan dalamnya toreh, tepi daun dibedakan menjadi:
  1. Berlekuk (lobatus), jika dalamnya toreh kurang dari setengah panjang tulang-tulang yang terdapat di kanan kirinya.
  2. Bercangap (fissus), jika dalamnya toreh sampai setengah panjang tulang-tulang daun di kanan kirinya.
  3. Berbagi (partitus), jika dalamnya toreh melebihi setengah panjang tulang-tulang daun di kanan kirinya.


Karena letak toreh selalu bergantung pada susunan tulang daun, maka istilah untuk mencandra tepi daun yang bertoreh dalam dan besar merupakan kombinasi antara sifat toreh dengan susunan tulang daun yang bersangkutan.
  1. Berlekuk Menyirip (pinnatilobus), jika tepi berlekuk mengikuti susunan tulang daun yang menyirip. Contohnya pada daun Terong (Solanum melongena L.).
  2. Bercangap Menyirip (pinnatifidus), jika tepi bercangap sedangkan daunnya mempunyai susunan tulang menyirip. Contohnya pada daun Sukun (Artocarpus communis Forst.).
  3. Berbagi Menyirip (pinnatipartitus), jika tepi berbagi dengan susunan tulang yang menyirip. Contohnya pada daun Kenikir (Cosmos caudatus M.B.K.).
  4. Berlekuk Menjari (palmatilobus), jika tepi berlekuk dan susunan tulang daun menjari. Contohnya pada daun Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)
    dan pada daun Kapas (Gossypium sp.).
  5. Bercangap Menjari (palmatifidus), jika tepi bercangap dan susunan tulang daun menjari. Contohnya pada daun Jarak (Ricinus communis L.).
  6. Berbagi Menjari (palmatipartitus), jika tepi berbagi dan susunan tulang daun menjari. Contohnya pada daun Ketela Pohon (Manihot utilissima Pohl.).

Monday, March 2, 2015

Susunan Tulang Daun (Nervatio/Venatio)

Fungsi tulang daun adalah:

  1. Memberi kekuatan pada daun seperti tulang manusia dan hewan, karena itu seluruh tulang-tulang pada daun disebut rangka daun (sceleton).
  2. Sebagai jalan untuk pengangkutan zat-zat yaitu:
    1. jalan pengangkutan zat-zat yang diambil tumbuhan dari tanah, berupa air dan garam-garam yang terlarut di dalamnya.
    2. Jalan pengangkutan hasil-hasil asimilasi dari daun (tempat pembuatannya) ke bagian-bagian lain yang memerlukan zat tersebut.

Tulang-tulang daun menurut besar kecilnya:

  1. Ibu Tulang (costa), ialah tulang daun terbesar, merupakan terusan tangkai daun dan terdapat ditengah-tengah membujur dan membelah daun. Oleh tulang ini helaian daun umumnya dibagi menjadi dua bagian yang setangkup atau simetris. Ada pula kalanya daun tumbuhan tidak mempunyai ibu tulang tadi tepat di tengah helaian, sehingga kedua bagian daun di kanan kiri ibu tulang tadi menjadi tidak setangkup (asimetris), misalnya pada daun Begonia.
    Ada pula daun yang memperlihatkan beberapa tulang yang besar yang semuanya berpangkalan pada ujung tangkai daun, misalnya pada daun yang mempunyai bangun perisai atau daun-daun yang bulat seperti pada daun Jarak (Ricinus communis L.),
    Ubi Kayu (Manihot utilissima L.),
    dll.
  2. Tulang Cabang (nervus lateralis), yaitu tulang-tulang yang lebih kecil daripada ibu tulang dan berpangkal pada ibu tulang tadi atau cabang-cabang tulang-tulang ini. Tulang cabang yang langsung berasal dari ibu tulang dinamakan tulang cabang tingkat 1, cabang tulang pada cabang tingkat 1 disebut cabang tingkat 2, demikian seterusnya.
  3. Urat Daun (vena), sesungguhnya merupakan tulang-tulang cabang pula, tetapi yang kecil atau lembut dan satu sama lain besarta tulang-tulang lebih besar membentuk susunan seperti jala, kisi, atau lainnya.


    Sifat-sifat  tulang-tulang cabang tingkat 1 yang tumbuh ke samping (ke arah tepi daun):


    • Tulang cabang dapat mencapai tepi daun.
    • Tulang cabang berhenti sebelum mencapai tepi daun.
    • Tulang cabang dekat tepi daun lalu membengkok ke atas, demikian berturut-turut sehingga sepanjang tepi daun terdapat tulang yang letaknya sejajar dengan tepi daun, kadang-kadang tampak berombak, disebut Tulang Pinggir. Adanya tulang pinggir tepi daun menjadi lebih kuat dan tidak mudah koyak-koyak,
      misalnya pada daun Kedondong (Spondias dulcis Forst.),
      dan pada daun Pisang (Musa paradisiaca L.).


    Susunan tulang daun berdasarkan arah tulang cabang yang besar:


    1. Daun Bertulang Menyirip (penninervis), jika daun mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan tangkai daun. Dari ibu tulang muncul tulang cabang sehingga susunannya mirip tulang pada ikan. Daun seperti ini umumnya terdapat pada tumbuhan dikotil (dicotyledoneae), misalnya pada daun Mangga (Mangifera indica L.).
    2. Daun Bertulang Menjari (palminervis), jika dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, seperti jari-jari tangan. Jumlah tulang ini lazimnya gasal (ganjil), yaitu di tengah yang paling besar dan paling panjang, sedang ke samping semakin pendek. Daun seperti ini HANYA terdapat pada tumbuhan dikotil (dicotyledoneae), misalnya pada daun Pepaya (Carica papaya L.),
      pada daun Jarak (Ricinus communis L.),
      pada daun Kapas (Gossypium sp.), dll.
    3. Daun Bertulang Melengkung (cervinervis), jika daun mempunyai beberapa tulang besar, satu paling besar di tengah, dan lainnya mengikuti jalannya tepi daun, jadi semula memencar kemudian kembali menuju ke satu arah (ujung daun), hingga selain tulang yang di tengah semua tulang-tulangnya kelihatan melengkung. Daun seperti ini HANYA terdapat pada tumbuhan monokotil (monocotyledoneae), misalnya pada daun Genjer (Limnocharis flava Buch.),
      pada daun Gadung (Dioscorea hispida Dennst.), dll.
    4. Daun Bertulang Sejajar atau Bertulang Lurus (rectinervis), biasanya terdapat pada daun-daun bangun garis atau bangun pita, yang mempunyai satu tulang di tengah yang besar membujur daun, sedang tulang-tulang lainnya jelas lebih kecil dan nampaknya semua mempunyai arah yang sejajar dengan ibu tulang tadi. Sebenarnya tulang-tulang kecil tadi seperti pada daun yang bertulang melengkung semuanya berasal dari pangkal ibu tulang kemudian bertemu kembali pada ujung daun. Karena daun sempit dan panjang, tulang-tulang tadi tidak kelihatan melengkung, tetapi lurus dan sejajar satu sama lain. Daun seperti ini lazimnya terdapat pada tumbuhan monokotil (monocotyledoneae), misalnya pada semua jenis rumput (Gramineae),
      teki-tekian (Cyperaceae), dll.

    Kesimpulannya dari uraian di atas adalah:

    • Tumbuhan dikotil (dicotyledoneae) mempunyai daun bertulang menyirip atau menjari
    • Tumbuhan monokotil (monocotyledoneae) mempunyai daun bertulang melengkung atau sejajar.

    Pengecualian, golongan tumbuhan dikotil ada pula yang mempunyai daun bertulang melengkung, misalnya pada daun Sirih (Piper betle L.),
    pada daun Senggani (Melastoma polyanthum), dll.
    Sebaliknya golongan tumbuhan monokotil ada pula yang mempunyai daun bertulang menyirip, misalnya pada daun Pisang (Musa paradisiaca L.)
    dan pada daun Tasbih (Canna hybrida Hort.).
    Ada pula yang mempunyai daun yang bertulang menjari, misalnya pada daun Siwalan (Borassus flabellifer L.).

    Recent Posts